Gambut Ternyata Ikut Membentuk Hujan, Begini Prosesnya

2 hours ago 2

PENELITIAN terbaru mengungkap fakta baru soal ekosistem gambut yang ternyata berfungsi sebagai "mesin uap" alami pembentuk hujan. Meski selama ini lebih dikenal sebagai penyimpan karbon yang bisa menimbulkan kabut asap bila terbakar, lahan gambut ternyata membantu menjaga kestabilan iklim di wilayah tropis. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Climate Dynamics yang diterbitkan Springer Nature pada 2026.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Albertus Sulaiman, mengatakan riset baru ini mengubah cara pandang sains terhadap fungsi ekologis hutan rawa gambut. “Bukan hanya sebagai gudang karbon, tetapi juga berfungsi seperti mesin uap yang memperkuat sirkulasi angin darat-laut dan membantu menjaga ritme hujan harian di wilayah pesisir tropis," ujar Albertus melalui keterangan tertulis, Senin, 13 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tim gabungan BRIN bersama Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia menggencarkan penelitian ini di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau. Mayoritas wilayah pulau dataran rendah tersebut masih didominasi ekosistem rawa gambut alami, sehingga cocok menjadi laboratorium alam untuk memahami interaksi antara lahan gambut dan atmosfer.

Untuk memperoleh data yang sangat rinci, kata Albertus, tim memasang radar cuaca polarimetrik X-band buatan Jepang di kompleks STAIN Bengkalis sejak Februari 2020. Radar tersebut mampu memetakan distribusi hujan setiap lima menit, dengan resolusi ratusan meter dalam radius sekitar 50 kilometer—tingkat ketelitian yang masih sangat jarang tersedia di Indonesia.

Menjadi principal investigator studi tersebut, Albertus mengatakan pola hujan harian sepanjang Mei hingga Desember 2024 tercatat sangat konsisten. Hujan di wilayah pedalaman Bengkalis umumnya turun pada siang hingga sore hari, sedangkan di kawasan pesisir dan laut cenderung pada tengah malam hingga menjelang subuh. Pola ini mencerminkan sirkulasi angin darat-laut yang bekerja secara teratur setiap hari.

Saat Gambut Menggerakkan Awan

Untuk memahami penyebabnya, para peneliti mengembangkan model matematika atmosfer menggunakan tiga skenario berbeda, yaitu wilayah pantai tanpa pulau, wilayah dengan pulau dan selat, serta wilayah pulau gambut yang mempertimbangkan pengaruh kelembapan khas gambut. Hasil simulasi menunjukkan keberadaan Pulau Bengkalis menciptakan konvergensi angin dari laut dan selat secara bersamaan. “Sehingga pembentukan awan hujan menjadi jauh lebih kuat,” kata Albertus.

Albertus menjelaskan, karakteristik unik lahan gambut yang selalu lembap menghasilkan pasokan uap air dalam jumlah besar. Ketika uap air tersebut mengembun menjadi awan, panas laten yang dilepaskan akan memperkuat arus udara naik. Walhasil, lebih banyak udara lembap dari laut menuju daratan. Mekanisme inilah yang menyebabkan sirkulasi atmosfer menjadi lebih kuat dibandingkan wilayah non-gambut.

"Pulau gambut ternyata memperkuat sistem sirkulasi atmosfer secara alami. Semakin banyak uap air yang dilepaskan vegetasi gambut, semakin besar peluang terbentuknya awan dan hujan,” tutur Albertus.

Akhir Perdebatan Soal Pompa Biotik

Temuan tersebut juga memberikan bukti ilmiah baru terhadap konsep biotic pump atau pompa biotik. yakni hipotesis yang menyatakan bahwa hutan mampu membantu menggerakkan sirkulasi atmosfer dan mempengaruhi distribusi hujan regional melalui proses evapotranspirasi. Selama ini, mekanisme tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan atmosfer. Namun hasil penelitian di Bengkalis memperlihatkan pola yang konsisten antara teori, model, dan pengamatan radar.

Menurut Albertus, implikasi penelitian ini sangat penting bagi kebijakan pengelolaan lahan gambut. Jika gambut dikeringkan, ditebang, atau terbakar, kerusakan yang terjadi bukan hanya soal hilangnya cadangan karbon, tetapi juga lenyapnya fungsi ekologis sebagai pengatur hujan.

"Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, tetapi juga menjaga hujan. Degradasi gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi stabilitas sistem iklim tropis," tutur dia.

Tim peneliti merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten di lapangan menggunakan metode eddy covariance serta memasukkan mekanisme pengaruh gambut terhadap pembentukan hujan ke dalam model iklim global. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan akurasi prediksi curah hujan di kawasan Benua Maritim Indonesia yang selama ini masih menyimpan berbagai ketidakpastian.

Hasil penelitian anyar BRIN dan lima lembaga mitra ini, Albertus meneruskan, memperlihatkan peran strategis pulau-pulau gambut Indonesia dalam menjaga keseimbangan iklim regional. "Pulau-pulau gambut dan hutan rawa gambut yang tersebar di tepi Pantai timur Sumatera, Kalimantan dan Papua, mungkin tampak kecil di peta, tetapi kontribusinya terhadap sistem iklim tropis sangat besar,” ucapnya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |