Badan Geologi Naikkan Status Gunung Anak Krakatau Jadi Siaga

4 days ago 4

PELAKSANA Teknis Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan status aktivitas Gunung Anak Krakatau naik menjadi Siaga atau Level III. “Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau dinaikkan dari  Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB,” kata dia, dikutip dari keterangannya, Jumat, 3 Juli 2026.

Badan Geologi menetapkan daerah berbahaya dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung tersebut. “Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat,” kata dia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Badan Geologi mencatat data pengamatan Satelit Sentinel sejak 1 Juni 2026 mendapati kemunculan emisi SO2 dan anomali panas. Pada 10 Juni 2026 muncul titik api di kawah Gunung Anak Krakatau. Gejala tersebut disertai munculnya asap dari kawah dengan intensitas relatif tinggi dan peningkatan signifikan jumlah gempa dangkal berupa embusan, hybrid (fase banyak), dan low frequency. Pada 18-19 Juni 2026, misalnya, terpantau jumlah gempa embusan, hybrid, dan low frequency meningkat drastis dengan rata-rata kejadian lebih dari 50 kali sehari.

“Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa vulkanik yang berasosiasi gempa dalam (Vulkanik A dan Vulkanik B) dan deformasi, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunung Api Anak Krakatau di bagian permukaan,” kata Lana.

Badan Geologi mencatat pada periode 16 Juni 2026 hingga 2 Juli 2026 terekam 740 kali gempa embusan, 24 kali gempa harmonik, 247 kali gempa low frequency, 520 kali gempa hybrid, 16 kali gempa tremor menerus, 2 kali gempa vulkanik dangkal, 3 kali gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa tektonik lokal, dan 5 kali gempa tektonik jauh.  

Data tiltmeter di Stasiun Kras dan Lava 93 pada periode yang sama memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan konstan, sementara Stasiun Tanjung memperlihatkan pola fluktuatif dengan kecenderungan inflasi dalam skala rendah.

Selanjutnya pada 26 Juni 2026 terpantau intensitas gempa embusan semakin meningkat dengan disertai meningkatnya intensitas asap kawah berwarna kelabu dengan muatan abu vulkanik tipis mengarah barat-barat laut.  

Asap tersebut terdeteksi satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia. Grafik RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) secara umum terlihat berfluktuatif dengan energi rendah, mulai tanggal 30 Juni 2026 cenderung memperlihatkan peningkatan dalam skala rendah.  

Terbaru, pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 14.05 WIT terjadi letusan Gunung Anak Krakatau dengan tinggi kolom mencapai 200 meter di atas puncak gunung tersebut. Kolom abu dilaporkan terlihat berwarna kelabu  hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut. Letusan tersebut terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi lebih kurang 20 detik.

“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” kata Lana. 

Gunung Anak Krakatau memiliki tinggi 357 meter di atas permukaan laut. Gunung tersebut merupakan gunung api aktif tipe A berlokasi di perairan Selat Sunda yang secara administrasi masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pengamatan Gunung Anak Krakatau dilakukan dari dua pos pengamatan gunung api, yakni di Kalianda, Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan di Pasauran, Serang, Provinsi Banten.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |