SEKTOR pariwisata mewah di kawasan Asia Pasifik kini tengah mengalami pergeseran fundamental seiring dengan runtuhnya stereotip tunggal mengenai wisatawan dari Generasi Z. Riset terbaru yang dirilis oleh Luxury Group dari Marriott International mengungkapkan bahwa pelancong muda dari kelas mapan tersebut tidak lagi dapat dikategorikan ke dalam satu profil demografis yang seragam, melainkan terbagi ke dalam empat kategori preferensi atau pola pikir utama yang berbeda.
Penelitian komprehensif ini melibatkan 2.800 responden masyarakat kelas atas di delapan pasar utama kawasan Asia Pasifik, dengan 1.200 responden di antaranya merupakan bagian dari Gen Z yang berusia antara 18 hingga 29 tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa penentuan destinasi serta fasilitas liburan mewah kini tidak lagi didorong oleh faktor usia semata, melainkan dipengaruhi secara ketat oleh tujuan personal, pencarian identitas, serta makna perjalanan yang bersifat individual bagi masing-masing pelancong.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Regional Vice President of Luxury Marriott International Asia Pacific (excluding China), Oriol Montal, menjelaskan bahwa lanskap pasar premium global saat ini telah bergerak dinamis menjauhi standarisasi baku pelayanan lama. Ia juga menambahkan bahwa generasi baru ini memiliki andil besar dalam memetakan ulang arah industri hilir pariwisata.
"Riset kami mengungkapkan bahwa wisatawan Gen Z yang berkecukupan tidak sekadar berpartisipasi dalam perjalanan mewah, tapi juga menyusun ulang, didorong oleh keinginan akan makna, kesejahteraan, dan koneksi yang autentik," ujar Oriol dalam keterangan tertulis pada Rabu, 1 Juli 2026.
Empat Kategori Wisatawan Muda
Berdasarkan data yang dihimpun dalam laporan tersebut, kelompok mayoritas terbesar diwakili oleh The Connoisseur Traditionalist sebanyak 34 persen. Kelompok ini menaruh kepercayaan penuh pada reputasi merek, kualitas keahlian pelayanan, serta efisiensi program loyalitas hotel.
Sebaliknya, terdapat kelompok The Future Proofer dengan porsi 30 persen yang memandang perjalanan liburan sebagai sarana investasi kesehatan jangka panjang. Kelompok kedua ini sangat memprioritaskan fasilitas kebugaran holistik serta akses terhadap tenaga medis profesional di tempat mereka menginap.
Sementara itu, sebanyak 20 persen pelancong masuk dalam kategori The Quiet Luxurist. Berbeda dengan pandangan awam yang menilai anak muda menyukai paparan media sosial, kelompok ini justru mendefinisikan kemewahan lewat kemampuan untuk membatasi teknologi, mencari ketenangan, dan mengunjungi destinasi tersembunyi yang belum populer.
Terakhir, terdapat kelompok The Cultural Reclaimer sebesar 16 persen, yang fokus melakukan perjalanan guna mengeksplorasi warisan budaya keluarga, mempererat ikatan antargenerasi, serta memegang kendali finansial penuh dalam perencanaan liburan keluarga mereka.
Selain memetakan empat karakter utama, riset ini turut mematahkan anggapan mengenai ketergantungan finansial generasi muda terhadap orang tua mereka saat berlibur. Lebih dari separuh dari total responden Gen Z terbukti mendanai perjalanan mereka secara mandiri, dan hampir separuhnya merencanakan seluruh detail perjalanan tanpa bantuan pihak ketiga.
LAODE MUHAMAD ASHEGAF




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)












