Puluhan foto hitam putih memenuhi dinding ruang pamer lantai tiga kantor Konsulat Kehormatan Belanda di Jalan Dana Kopra, Kecamatan Sirirmau, Kota Ambon, Senin 29 Juni 2026. Foto-foto juga disebar di beberapa meja. Wajah-wajah dalam foto bernuansa hitam putih itu seperti menarik setiap pengunjung untuk berhenti dan nenatapnya. Wajah anak-anak yang tersenyum di depan rumah sederhana, ibu-ibu yang memasak bersama, keluarga yang berdoa, hingga keceriaan anak muda yang berdansa. Setiap lembar foto menyimpan kisah tentang rindu, perjuangan, dan identitas mereka yang melintasi ribuan kilometer dari Maluku menuju Belanda.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Puluhan potret ini merupakan foto-foto yang dipamerkan dalam pameran fotografi bertajuk “In Eigen Woorden”( Dalam Kata-Kata Kita Sendiri)” yang diselenggarakan oleh Museum Maluku di Belanda, di pamerkan di kantor Konsulat Kehormatan Belanda sejak 20 Juni hingga 4 Juli 2026.
Awalnya, pameran tersebut diselenggarakan di Museum Maluku di Belanda sebagai bagian dari peringatan 75 tahun diaspora Maluku. Gagasan itu diprakarsai oleh Henry Timisela bersama Yanis Zilstra sebagai upaya mengenang perjalanan panjang masyarakat Maluku yang meninggalkan tanah kelahiran mereka sejak awal dekade 1950-an. Kini, pameran itu dibawa ke Ambon sebagai simbol keterhubungan yang tidak pernah benar-benar terputus.
“Pameran fotonya dalam bentuk hitam putih, ini arsip foto lama semua kira-kira dari 1951, 1980 sampai Sampai 1990-an,” tutur Editor dan Produksi Pameran di Ambon, Theoresia Rumthe kepada Tempo pada 29 Juni 2026.
Theo, panggilan Theoresia menuturkan tujuan utama pameran ini adalah membangun kembali jembatan emosional antara masyarakat Maluku di tanah leluhur dengan diaspora Maluku yang hidup di Belanda. Foto-foto yang dipamerkan mengajak publik mengingat kembali perjalanan hidup diaspora Maluku yang harus beradaptasi di negeri yang asing, tetapi tetap mempertahankan identitas dan kebudayaan mereka.
Theoresia mengatakan, pameran fotografi bertajuk In Eigen Woorden berarti Dalam Kata-Kata Kita Sendiri hadir di Ambon bukan sekadar memamerkan arsip visual. Pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat Maluku dengan saudara-saudara diaspora yang telah menetap di Belanda selama puluhan tahun.
“Jadi dari arsip-arsip ini sebenarnya kami mencoba untuk mengingat dan juga merayakan kembali perjalanan saudara-saudara Maluku ke tanah Belanda,” kata Theo.
Deretan arsip foto keluarga Maluku di Belanda dipajang dalam pameran foto bertajuk "In Eigen Woorden" yang berlangsung di Kantor Konsulat Kehormatan Kerajaan Belanda, Jalan Dana Kopra, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, 29 Juni 2026. Dok. RR
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN, Marc Gerritsen, membuka pameran tersebut pada 20 Juni 2026 lalu. Dalam sambutannya ia mengatakan sebuah kisa memiliki kekuatan untuk menghubungkan masyarakat Maluku dan Belanda. ”Melalui foto-foto dan pengalaman pribadi ini, pameran ini membuka jendela ke dalam kehidupan diaspora Maluku di Belanda dan menunjukkan bagaimana seni dan budaya dapat membangun pemahaman lintas generasi dan lintas batas,”ujar Gerritsen.
Foto Berasal dari Arsip Diaspora
Theo menjelaskan seluruh foto yang dipamerkan bukan berasal dari arsip resmi museum, melainkan dari album-album masyarakat Maluku di Belanda. Justru di situlah letak kekuatan pameran ini. Setiap gambar merupakan potongan kehidupan sehari-hari yang merekam perjalanan dan kehidupan keluarga-keluarga Maluku di Belanda mulai dari kebersamaan keluarga, tradisi memasak, ibadah, cara berpakaian, hingga momen-momen sederhana sebagai cara untuk menceritakan sejarah dari sudut pandang masyarakat Maluku sendiri. Alih-alih berfokus pada peristiwa politik, foto-foto yang ada membekukan kenangan keseharian mereka menjalani hidup di negeri orang.
Salah satu foto bahkan memperlihatkan dapur pertama di kawasan permukiman masyarakat Maluku di Belanda pada era 1950-an. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gambar sebuah bangunan sederhana. Namun, bagi keturunan diaspora, dapur tersebut menjadi simbol awal kehidupan baru, tempat harapan dirajut di tengah ketidakpastian.
Setiap pengunjung bebas memaknai foto-foto itu. Ada yang melihatnya sebagai kisah keluarga, ada yang membaca jejak sejarah, sementara yang lain menemukan cerita tentang keteguhan menghadapi perubahan zaman. “Karena setiap bingkai menyimpan pengalaman manusia yang berbeda,” tutur Theo.
Ia menjelaskan dalam perjalanan sejarah, sekitar 12.500 warga Maluku diberangkatkan ke Belanda pada 21 Juni 1951. Seiring berjalannya waktu, jumlah keturunan diaspora terus bertambah hingga mencapai puluhan bahkan ratusan ribu orang. Meski dipisahkan oleh jarak dan generasi, hubungan emosional dengan tanah Maluku tetap terpelihara.
Jembatan Ke Masa Lalu
Karena itu, pameran ini tidak semata-mata berbicara tentang masa lalu. Ia menjadi ruang dialog lintas generasi sekaligus pengingat bahwa identitas tidak selalu dibatasi oleh wilayah geografis. Ikatan sebagai orang Maluku terus hidup melalui keluarga, budaya, cerita, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.“Tentu kalau soal hubungan antara masyarakat di Maluku dengan diaspora Maluku yang ada di Belanda. Pasti kan ada keterhubungan ya, karena orang-orang di Maluku juga masih merayakan kehadiran saudara-saudara yang ada di sana,” ungkapnya.
Marthen Reasoa, salah seorang pengunjung pameran menuturkan setiap foto berkisah tentang perjalanan generasi pertama orang-orang Maluku di Belanda dan berkembang hingga saat ini. Ketika memasuki pameran, dia merasa punya keterikatan lantaran memiliki kerabat di sana. Dia mengingat saat mereka pulang ada rasa haru karena mereka masih mengingat tanah leluhur mereka. “Dan itu yang bikin beta (saya) berkesan,walau katong (kita) ada di tanah rantau, yang jauh dari asal-usul tapi tidak pernah lupa Ambon untuk pulang,” tutur Marthen kepada Tempo.
Meski hidup di antara jarak, ingatan tentang identitas dan budaya dari tanah Maluku tak pernah benar–benar pudar. Baju kebaya khas Ambon, tari lenso dan cakalele sampai lagu-lagu Maluku sampai kini masih digunakan pada setiap kegiatan diaspora Maluku di Belanda.
“Mereka tak pernah lupa sejarah dan budaya Maluku. Selalu ada kegiatan dong (mereka) menari lenso, pakai kebaya di foto-foto itu,” katanya.
Saat meninggalkan ruang pameran, Marthen membawa pulang kesan yang mendalam, dia paham bagaimana sebuah pameran tak hanya menceritakan tentang foto-foto lama. Ada ikatan kekeluargaan yang begitu erat baik mereka yang di Belanda maupun di Ambon. “Dan beta (saya) melihat bahwa meskipun dong (mereka) jauh dari Ambon, dari Maluku, tapi ikatan kekeluargaannya sangat erat,” tuturnya.
Pilihan Editor:
Deretan arsip foto keluarga Maluku di Belanda dipajang dalam pameran foto bertajuk "In Eigen Woorden" yang berlangsung di Kantor Konsulat Kehormatan Kerajaan Belanda, Jalan Dana Kopra, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, 29 Juni 2026. Dok. RR
Sejarah Masyarakat Maluku Eksodus ke Belanda
Belasan ribu masyarakat Ambon eksodus ke Belanda tak lepas dari rentetan panjang peristiwa politik negeri ini. Buku-buku sejarah menjabarkan peristiwa pascakemerdekaan yang berakhir dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Transisi kekuasaan ini mengakibatkan konflik antara pasukan pro Indonesia dan pro- Belanda yakni KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda).
Mengutip jurnal penelitian yang ditulis Abdul Haris Fatgehipon, pengajar di Departemen Pendidikan Ilmu Sosial FIS UNJ (Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta), dalam jurnal Studi Sejarah Tawarikh, Volume 12 (2) pada 2021 yang berjudul “Eksodus Tentara KNIL dari Maluku ke Belanda pada tahun 1950-an”, tentang tentara KNIL dan perkembangan generasi berikutnya di Belanda. KNIL merupakan tentara bentukan Belanda yang direkrut dari penduduk pribumi dari berbagai suku.
Tak kurang dari 60 ribu dari 220 ribu personel militer merupakan tentara KNIL. Dari 60 ribu itu 50 ribu orang merupakan sukarelawan perang dan sisanya tentara profesional. Umumnya mereka berusia 20-an tahun, yang sebagian belum pernah menjalani pelatihan militer dan pengalaman berada jauh dari tempat kelahiran mereka.
Setelah penyerahan kedaulatan dari hasil Konferensi Meja Bundar, para prajurit KNIL yang berasal dari penduduk asli Kepulauan Maluku menghadapi dilema ketika mereka tidak diizinkan kembali ke Maluku akibat adanya pemberontakan Republik Maluku Selatan di wilayah tersebut. Mereka terpaksa mengikuti kebijakan pemerintah Belanda untuk diberangkatkan ke Belanda; karena pemerintah Belanda menjanjikan akan memulangkan mereka Maluku setelah situasi politik memungkinkan, dengan pemahaman bahwa keberadaan mereka di Belanda hanyalah bersifat sementara.
Antara Maret hingga April 1951, sekitar 12.500 Suku Ambon, 3.578 tentara dan 8.500 keluarga dibawa dari Ambon menuju Belanda dengan kapal bernama Kota Inten. Setelah berlayar selama sebulan dan tiba di pelabuhan Rotterdam pada 21 maret 1951. Mereka ditempatkan di kamp-kamp penampungan. Di sana mereka tidak mendapatkan perlakuan yang baik.
Dari hasil riset literatur dan wawancara beberapa keluarga generasi kedua dan ketiga eks KNIL. Para tentara KNIL dan keluarganya harus berjuang beradaptasi dengan berbagai situasi, baik secara sosial budaya seperti bahasa, agama, dan hidup keseharian, cuaca. Tak sedikit yang meninggal, atau pulang ke Maluku setelah beberapa tahun, tapi lebih banyak yang bertahan.
Generasi ketiga dan keempat keluarga eks KNIL menyatakan tidak mempunyai ikatan emosi dengan akar atau tanah kelahiran keluarga kakek neneknya. Mereka tidak memikirkan masalah politik RMS, sibuk bekerja, dan sudah terpengaruh dengan cara pemikiran orang Eropa. “Mereka merasa sudah jadi orang Belanda meski secara ras tidak berkulit putih,” demikian ditulis Abdul Haris.
Sebuah buku berjudul In Nederland gebleven: De geschiedenis van Molukkers 1951 tot 2025 (Bertahan di Belanda: Sejarah Orang Maluku 1951 hingga 2025) karya Henk Smeets dan Fridus Steijlen menyingkap sejarah politik dan pengalaman kolektif, menampilkan bagaimana kedatangan singkat itu berkembang menjadi pergulatan panjang tentang identitas, integrasi, dan warisan.
Khairiyah Fitri, koresponden di Ambon berkontribusi dalam artikel ini.




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)













