Jumpa media Gifa-Metec Indonesia 2026 diselenggarakan di Jakarta, Rabu (19/8).(Dok Istimewa)
Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat, yang dibangun PT Aneka Tambang (Antam) bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), menjadi bagian dari strategi memperkuat industri pengolahan mineral dalam negeri, khususnya komoditas bauksit menjadi alumina hingga aluminium. Pembangunan smelter ini akan mengurangi ekspor bahan mentah sekaligus menciptakan nilai ekonomi lebih besar dari sumber daya alam Indonesia.
Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 600.000 ton aluminium per tahun. Smelter ini menjadi bagian dari nilai investasi sebesar Rp110 triliun di bawah konsorsium PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID). Target operasinya dijadwalkan berlangsung antara 2028 dan 2029, dengan menyesuaikan tingkat kesiapan pasokan listrik atau PLTU serta infrastruktur pendukung di kawasan tersebut.
Perkembangan terkini terkait Smelter Mempawah dikupas dalam jumpa media Gifa-Metec Indonesia di Jakarta, Rabu (19/8). Gifa, atau Giesserei-Fachausstellung, merupakan pameran perdagangan teknologi pengecoran dan peleburan logam yang diselenggarakan perusahaan asal Jerman di sejumlah negara. Sementara itu, Metec merupakan International Metallurgical Trade Fair and Forum for Indonesia.
Hadir dalam acara itu Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin, Wakil Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo) Iwan Lukito, serta Managing Director Messe Düsseldorf Asia Lars Wismer yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Dalam neraca ekspor-impor periode Januari–Agustus 2025, ekspor alumina tercatat sebesar 3,66 juta ton. Sementara itu, ekspor aluminium hidroksida sebanyak 124.032 ton dan aluminium ingot sebesar 366.945 ton. Pada periode yang sama, Indonesia masih mengimpor 816.103 ton alumina. Indonesia juga masih melakukan impor produk aluminium hidroksida dan aluminium ingot masing-masing sebanyak 59.039 ton dan 59.679 ton.
Wismer menjelaskan, merujuk pada realisasi investasi agenda hilirisasi Indonesia, perkembangan subsektor logam dasar, barang logam, mesin, dan peralatan mencatat investasi sebesar US$8,44 miliar, atau 14,9% dari total investasi nasional pada semester I 2026. Pada kuartal II, investasi hilirisasi bauksit mencapai US$2,25 miliar, lebih tinggi dibandingkan US$1,65 miliar pada hilirisasi nikel.
Kebijakan hilirisasi itu juga diperkuat dengan larangan ekspor bauksit sejak 2023 serta agenda peningkatan investasi dan kapasitas produksi, kebutuhan terhadap teknologi proses, keahlian rekayasa, infrastruktur, sistem mutu, dan kemampuan manufaktur hilir.
“Di sektor yang kami tangani, yaitu industri pengerjaan logam dan permesinan, dibutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan, keahlian teknis, serta kemitraan internasional seiring dengan berkembangnya kapasitas manufaktur domestik. Pada kegiatan ini kami dipertemukan dengan pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, pengolahan aluminium, dan industri hilir,” kata Dadang Asikin.
Kapasitas produksi smelter itu diyakini akan memperkuat kebutuhan industri hilir untuk mengolah aluminium menjadi lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, dan komponen manufaktur.
Karena itu, Aluminium Pavilion akan hadir untuk pertama kalinya pada pameran yang telah diselenggarakan untuk ketiga kalinya tersebut. Paviliun ini akan menampilkan solusi peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, dan materials handling.
“Aluminium berada di titik temu sejumlah prioritas industri domestik, yaitu agenda hilirisasi, daya saing manufaktur, pembangunan infrastruktur, integrasi rantai pasok otomotif, serta transisi energi,” kata Wismer.
Kedua pameran akan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan 6.000 pengunjung profesional. Gifa Indonesia menampilkan teknologi pengecoran, mulai dari peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, hingga simulasi, otomasi, dan pengujian. Sementara itu, Metec berfokus pada teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk besi dan baja, logam nonfero, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, dan rekayasa pabrik. (X-6)


















































