Rusa kutub merumput di tundra Arktik di mana efek tirai nol memperpanjang waktu ketersediaan kelembapan bagi mikroba yang melepaskan gas kaya karbon ke atmosfer.(NASA)
SEBUAH studi terbaru yang memanfaatkan data pengamatan satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengidentifikasi adanya fenomena "pembekuan tersembunyi" (hidden freeze) di bawah permukaan tanah wilayah Arktik. Penemuan ini memberikan perspektif baru bagi para peneliti dalam memahami dinamika pembekuan dan pencairan lapisan tanah beku abadi (permafrost) di kawasan Kutub Utara.
Selama ini, pemantauan perubahan iklim di Arktik sangat mengandalkan pengukuran suhu udara dan pengamatan visual permukaan tanah dari luar angkasa. Namun, pengukuran dari permukaan saja tidak selalu mencerminkan kondisi riil yang terjadi di lapisan bawah tanah.
Melalui instrumen gelombang mikro berbasis satelit yang mampu menembus lapisan teratas tanah, para ilmuwan NASA berhasil mendeteksi keberadaan air cair di bawah permukaan yang membeku kembali secara bertahap saat memasuki musim dingin. Proses pembekuan ini terjadi tanpa menunjukkan tanda-tanda perubahan visual yang signifikan di permukaan atasnya.
Fenomena pembekuan tersembunyi ini memegang peranan krusial dalam siklus karbon global. Ketika tanah beku abadi mencair, mikroorganisme mulai membusukkan materi organik yang tertimbun di dalamnya, melepaskan gas rumah kaca berupa karbon dioksida dan metana ke atmosfer. Sebaliknya, ketika lapisan bawah permukaan ini membeku kembali, proses pembusukan mikroba tersebut akan melambat atau terhenti secara signifikan.
Dengan mendeteksi durasi dan jangkauan pasti dari pembekuan tersembunyi ini, para ilmuwan dapat mengukur durasi aktif mikroba pembusuk secara lebih akurat. Informasi ini menjadi data vital untuk menyempurnakan perkiraan jumlah emisi karbon yang dilepaskan oleh kawasan Kutub Utara setiap tahunnya.
Temuan dari misi satelit NASA ini menegaskan pentingnya pemantauan bawah permukaan untuk memahami dampak pemanasan global di kawasan kutub. Kehadiran teknologi radar dan gelombang mikro canggih memungkinkan para peneliti memetakan perubahan ekosistem Arktik secara lebih rinci, guna mendukung prediksi iklim global yang lebih tepat di masa depan. (NASA/Z-2)


















































