Sulap Limbah Jerami Jadi Pupuk Organik

2 hours ago 1
Sulap Limbah Jerami Jadi Pupuk Organik Ilustrasi(Dok ULM)

ASAP tebal sisa pembakaran jerami pasca-panen yang biasanya menyelimuti persawahan Desa Ida Manggala, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, kini mulai berganti dengan geliat aktivitas produktif. Ratusan petani yang bernaung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan, kini tengah merintis jalan menuju kemandirian pupuk organik melalui inovasi teknologi tepat guna yang ramah lingkungan. Selama bertahun-tahun, para petani di wilayah ini terjebak dalam perangkap ketergantungan pupuk kimia sintetis dengan pengeluaran operasional usaha tani yang membubung tinggi.

Di sisi lain, potensi melimpah dari sisa panen berupa biomassa jerami padi yang mencapai 525 ton per musim panen, terbuang sia-sia dan mayoritas dimusnahkan dengan cara dibakar secara terbuka (open burning). Praktik ini memicu degradasi hara tanah serta menyumbang polusi udara. 

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen kolaborasi lintas perguruan tinggi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Amuntai hadir membawa solusi konkret melalui pendekatan ekonomi sirkular (waste to wealth). Program ini didanai sepenuhnya oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia untuk Tahun Pendanaan 2026.

“Kami hadir tidak sekadar membawa bantuan fisik, melainkan melakukan transfer teknologi dekomposisi cepat agar petani memiliki kapasitas mandiri dalam mengelola sumber daya lokal mereka,” ujar Riza Adrianoor Saputra, akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat selaku Ketua Tim Pengabdian. 

Dr. Untung Santoso, pakar pertanian organik dari ULM, mengawal pelatihan teknis produksi kompos cepat menggunakan mesin pencacah jerami (straw chopper) portabel berkapasitas 600 kg/jam. Inovasi mekanis ini memotong jerami hingga ukuran kurang dari 5 cm guna mempercepat pembusukan secara alami.

Hasilnya luar biasa; jerami yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk hancur di lahan, kini dapat ditransformasi menjadi kompos matang yang stabil hanya dalam hitungan minggu. Sementara, Heldawati, pakar sosial ekonomi pertanian dari STIPER Amuntai, berfokus pada penguatan aspek manajemen kelembagaan dan introduksi prinsip ekonomi sirkular.

Petani dilatih untuk melakukan pencatatan administrasi biaya usaha tani demi menghitung efisiensi penghematan pengeluaran pupuk secara riil. Intervensi yang berjalan intensif ini terbukti mendongkrak tingkat keberdayaan mitra secara signifikan.

Berdasarkan pengukuran kuantitatif tim pelaksana, tingkat pemahaman petani mengenai bahaya pembakaran jerami dan teknik pengolahan hara melonjak drastis, dari rata-rata hanya 40% sebelum pelatihan (pre-test) menjadi 92% setelah pendampingan (post-test).

Secara ekonomi, penggunaan kompos jerami matang ini diproyeksikan mampu menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia eksternal yang selama ini membebani kantong petani hingga Rp4,5 juta per hektar. Pemanfaatan teknologi ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam memitigasi emisi gas rumah kaca di sektor pertanian suboptimal Kalimantan Selatan.

Keberhasilan kolaborasi yang juga melibatkan peran aktif lima mahasiswa Agroekoteknologi ULM ini merupakan bagian dari komitmen hilirisasi riset nasional. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat pada Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). 

Sebagai langkah keberlanjutan, tim pengusul bersama pengurus Gapoktan Harapan saat ini tengah merumuskan tata kelola Unit Usaha Kompos Desa. Diharapkan, Rumah Kompos permanen yang telah berdiri kokoh di Desa Ida Manggala tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi pupuk organik kolektif, tetapi juga tumbuh menjadi laboratorium lapangan (field laboratory) pembelajaran pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan di Kalimantan Selatan. (DY/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |