Teleskop Hubble Temukan Bukti Tabrakan Purba yang Mengubah Galaksi Bima Sakti

2 hours ago 1
Teleskop Hubble Temukan Bukti Tabrakan Purba yang Mengubah Galaksi Bima Sakti Ilustrasi karya seniman tentang galaksi kerdil LKH (kiri) yang bergabung dengan Bima Sakti muda, yang belum berbentuk spiral 11,8 miliar tahun yang lalu.(NASA/ESA/Joseph Olmsted (STScI))

PENGAMATAN menggunakan Teleskop Antariksa Hubble berhasil mengungkap bukti baru mengenai sejarah pembentukan Galaksi Bima Sakti. Para astronom menemukan galaksi tempat tinggal manusia ini pernah mengalami benturan dan penggabungan berskala besar dengan sebuah galaksi katai sekitar 11,8 miliar tahun lalu.

Penggabungan antar-galaksi merupakan salah satu cara utama bagi sebuah galaksi untuk tumbuh dan berkembang. Namun, memetakan sejarah masa lalu Bima Sakti membutuhkan analisis mendalam terhadap sisa-sisa objek purba yang tersebar di dalamnya.

"Rumah kita adalah galaksi Bima Sakti, tetapi kita tidak tahu bagaimana rumah kita dibangun," ujar Davide Massari dari Astrophysics and Space Science Observatory of Bologna di Italia, yang memimpin studi tersebut.

"Dalam makalah ini, kami menemukan dari mana asal tumpukan batu bata signifikan pertama: sebuah galaksi katai yang kami sebut LKH," tambahnya.

Nama LKH merupakan singkatan dari Low-energy–Kraken–Heracles, merujuk pada tiga penelitian terdahulu yang mengkaji gagasan mengenai penggabungan galaksi pada masa awal sejarah Bima Sakti.

Dalam studi ini, tim ilmuwan berhasil mengidentifikasi populasi gugus bintang bola (globular cluster) yang tidak berasal dari Bima Sakti maupun dari galaksi Gaia-Sausage-Enceladus (GSE), galaksi lain yang menabrak Bima Sakti sekitar 10 miliar tahun lalu. Populasi ini diketahui berasal dari galaksi LKH dan menyatu dengan Bima Sakti 11,8 miliar tahun lalu.

"Berkat resolusi tinggi dan kedalaman pencitraan Hubble, kami dapat mengukur usia dan kandungan logam dari gugus-gugus ini dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya," kata Chiara Zerbinati, astronom dari University of Bologna yang turut menyusun penelitian tersebut.

"Dipadukan dengan pengukuran dari misi [Badan Antariksa Eropa] Gaia, hal ini memungkinkan untuk membedakan populasi gugus bintang bola yang berbeda dari yang lain. Ini adalah gugus yang lahir di LKH dan memberi tahu kita kapan galaksi itu dilahap oleh galaksi kita, serta seberapa masif galaksi tersebut," jelas Zerbinati.

Berdasarkan analisis tersebut, tim peneliti menghitung bahwa galaksi LKH memiliki total massa setara 500 juta kali massa matahari. Meski tergolong kecil untuk ukuran saat ini, angka tersebut menyumbang porsi materi yang sangat besar bagi Bima Sakti yang saat itu baru berumur dua miliar tahun setelah peristiwa Big Bang.

Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pada 17 Agustus ini memberikan wawasan baru mengenai evolusi Bima Sakti.

"Beberapa penelitian terdahulu berpendapat bahwa fase-fase paling awal dari evolusi galaksi kita ditentukan oleh bintang-bintang yang hanya lahir di galaksi kita," tutur Massari. "Di sini, kami telah menunjukkan bahwa bintang-bintang yang lahir di galaksi eksternal juga perlu dipertimbangkan." (space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |